Gereja Runtuh, Tapi STTBENTARA Malah Makin Berkembang!

Saat gedung gereja tua di Jakarta runtuh akibat gempa, banyak yang berduka. Tapi STTBENTARA justru melihat kesempatan emas untuk membangun kembali bukan hanya bangunan, tapi visi pelayanan.

STTBENTARA

“Gereja bukan tembok. Gereja adalah tubuh Kristus,” kata Rektor STTBENTARA dalam pertemuan darurat dengan jemaat. “Dan tubuh itu tidak hancur ia beradaptasi.”

Alih-alih membangun kembali gedung megah, STTBENTARA mengusulkan “Gereja Tanpa Tembok”: komunitas iman yang tersebar di rumah-rumah, kafe, taman kota, bahkan ruang virtual.

Mahasiswa STTBENTARA langsung turun tangan. Mereka membentuk kelompok kecil di tiap RW, mengadakan ibadah di halaman, dan mengajar Alkitab lewat podcast. Hasilnya? Jemaat tidak berkurang malah bertambah 40% dalam 6 bulan.

“Orang tidak datang karena gedung megah. Mereka datang karena merasa diterima,” ujar seorang mahasiswa.

Yang menarik, pendapatan persembahan justru naik karena jemaat merasa uang mereka dipakai untuk pelayanan nyata, bukan untuk listrik AC gedung.

STTBENTARA juga meluncurkan program “Digital Ecclesia”, melatih pemimpin jemaat menggunakan media sosial untuk penggembalaan. Mereka buktikan: gereja bisa hadir di mana saja asal hati terbuka.

Sementara banyak institusi rohani takut pada perubahan, STTBENTARA berlari menyambutnya. Mereka percaya: krisis adalah ruang bagi Roh Kudus untuk berkreasi.

Kini, “gereja runtuh” itu jadi studi kasus nasional. Banyak denominasi belajar dari model STTBENTARA: gereja yang ringan, tangkas, dan hadir di tengah kehidupan nyata.

Bangunan mungkin hancur. Tapi misi? Semakin kuat.

Karena pada akhirnya, gereja sejati tidak dibangun dari beton tapi dari iman yang dihidupi.

Dan itu tidak bisa dihancurkan oleh apa pun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STTBENTARA: Pendidikan Tinggi Vokasi untuk Karier Andal

Universitas STTBENTARA Pelopor Pendidikan Anak Bangsa Indonesia

STTBENTARA Bongkar Rahasia Pelayanan yang Tak Pernah Gagal!