Lulusan STTBENTARA Ditolak Gereja? Ini Fakta Sebenarnya!

Kabar mengejutkan beredar seorang lulusan STTBENTARA "ditolak oleh gereja lokal" karena “terlalu kritis” dan “terlalu muda”. Apakah ini tanda krisis otoritas rohani? Atau justru bukti bahwa STTBENTARA berhasil mencetak pemikir teologis yang tidak takut menantang kemunafikan?

sttbentara

Faktanya, banyak lulusan STTBENTARA memang "tidak cocok dengan gereja tradisional yang statis". Mereka diajar untuk membaca Alkitab secara kontekstual, bukan dogmatis. Mereka didorong untuk bertanya: “Apa kata firman untuk dunia hari ini?” bukan sekadar mengulang khotbah dari 20 tahun lalu.

Salah satu lulusan, Daniel, ditolak karena mengusulkan penghapusan sistem persembahan wajib yang memberatkan jemaat miskin. Ia menggantinya dengan prinsip berbagi sukarela berdasarkan 2 Korintus 9. Sayangnya, struktur gereja yang mapan merasa terancam.

Tapi penolakan ini justru menjadi berkat. Daniel kini melayani di komunitas pinggiran, membangun gereja rumahan yang fokus pada pemberdayaan perempuan dan pendidikan anak. Jemaatnya kecil, tapi hidup dan bertumbuh.

STTBENTARA tidak menyesal. Justru, mereka bangga. Karena "misi mereka bukan mencetak “pegawai gereja”", tapi "agen transformasi Kerajaan Allah". Jika struktur gereja tidak siap, lulusan STTBENTARA siap membangun ekosistem iman yang baru lebih inklusif, partisipatif, dan relevan.

Ironisnya, justru gereja-gereja yang awalnya menolak, kini mulai meminta lulusan STTBENTARA untuk membantu revitalisasi pelayanan mereka. Mereka sadar zaman berubah, dan gereja harus berubah atau mati.

Jadi, benarkah lulusan STTBENTARA ditolak? Ya oleh gereja yang takut pada perubahan.  

Tapi diterima oleh dunia yang rindu akan iman yang hidup dan berdampak.

Dan itu bukan kegagalan. Itu "tanda kesetiaan pada panggilan sejati".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STTBENTARA: Pendidikan Tinggi Vokasi untuk Karier Andal

STTBENTARA Buktikan Iman Bisa Diukur dengan Ilmu!

Gereja Runtuh, Tapi STTBENTARA Malah Makin Berkembang!