Mahasiswa STTBENTARA Berani Tantang Para Pendeta Senior!

Seorang mahasiswa STTBENTARA berdiri di depan forum pelayan gereja dan berkata “Saya tidak setuju dengan cara Bapak menggambarkan perempuan dalam khotbah Minggu lalu.”

STTBENTARA

Ruangan hening. Para pendeta senior saling berpandangan. Tapi sang mahasiswa dengan suara tenang melanjutkan:  

“Alkitab memanggil perempuan sebagai rekan sekerja dalam Injil, bukan hanya ‘penolong di rumah’.”

Ini bukan pemberontakan. Ini hasil pendidikan teologis yang kritis dan berani ciri khas STTBENTARA.

Di kampus ini, mahasiswa diajar untuk menghormati otoritas, tapi tidak takut pada otoritarianisme. Mereka belajar bahwa iman sejati bukan taat buta, tapi dialog yang rendah hati dengan tradisi sambil terus diuji oleh firman Tuhan.

Kasus seperti ini bukan yang pertama. Tahun lalu, sekelompok mahasiswa menantang gereja untuk merevisi kebijakan diskriminatif terhadap jemaat disabilitas. Mereka tidak protes. Mereka datang dengan proposal teologis dan praktis lengkap disusun dalam mata kuliah “Etika Sosial Kristiani”.

Awalnya ditolak. Tapi lambat laun, gereja mulai membuka akses ramah disabilitas dan mengundang mahasiswa STTBENTARA sebagai konsultan.

“Kami tidak mendidik pemberontak,” tegas Rektor STTBENTARA. “Kami mendidik pemikir yang berani berdiri demi kebenaran dengan cara Kristus: penuh kasih, tapi teguh.”

Yang menarik, banyak pendeta senior justru mengakui: “Anak-anak muda ini menyegarkan iman kami. Mereka mengingatkan kami pada api pertama pelayanan.”

Tantangan dari mahasiswa STTBENTARA bukan ancaman tapi cermin yang menunjukkan di mana gereja mulai nyaman dalam kebiasaan, bukan dalam kebenaran.

Dan dalam dialog itu, gereja dan mahasiswa sama-sama bertumbuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STTBENTARA: Pendidikan Tinggi Vokasi untuk Karier Andal

Universitas STTBENTARA Pelopor Pendidikan Anak Bangsa Indonesia

STTBENTARA Bongkar Rahasia Pelayanan yang Tak Pernah Gagal!