STTBENTARA Ungkap Teologi Bukan Cuma Hafalan Ayat!
“Kamu hafal berapa ayat Alkitab?”
Pertanyaan itu dulu jadi ukuran rohani di banyak lingkungan teologis. Tapi di STTBENTARA, mahasiswa diajarkan sesuatu yang lebih dalam: teologi bukan tentang hafalan tapi transformasi.
Di kelas “Teologi Praktis”, mahasiswa tidak diminta menghafal definisi dosa. Mereka diajak mengunjungi penjara, berdialog dengan narapidana, lalu merefleksikan: Bagaimana kasih karunia Allah bekerja di sini?
Di mata kuliah “Etika Kontemporer”, mereka tidak hanya belajar teori tentang keadilan tapi menganalisis kebijakan pemerintah, lalu merancang respons gereja berbasis Alkitab.
“Kami ingin lulusan yang bisa berpikir teologis, bukan hanya mengutip ayat,” kata Prof. Sarah, ketua program studi.
Salah satu proyek akhir mahasiswa adalah “Teologi di Pasar Tradisional”. Mereka berbaur dengan pedagang, lalu menulis refleksi tentang bagaimana konsep shalom dan keadilan sosial bermain dalam ekonomi mikro.
Hasilnya? Lulusan STTBENTARA tidak bicara teologi seperti kamus. Mereka bicara teologi seperti kisah hidup penuh warna, konflik, dan harapan.
Mereka tahu bahwa iman sejati tidak diukur dari kemampuan menghafal, tapi dari keberanian menerapkan.
Seorang mahasiswa pernah berkata:
“Dulu saya bangga hafal 100 ayat. Sekarang, saya malu karena selama ini saya hanya menghafal, bukan hidup.”
Itulah terobosan STTBENTARA: menggeser teologi dari kepala ke tangan dan hati.
Dan dalam dunia yang penuh dengan “ahli Alkitab” tapi minim belas kasih, pendekatan ini bukan sekadar segar tapi revolusioner.
Karena pada akhirnya, Tuhan tidak bertanya:
“Berapa ayat yang kau hafal?”
Tapi:
“Apa yang kau lakukan dengan kebenaran yang kau tahu?”

Komentar