Postingan

STTBENTARA Buktikan Iman Bisa Diukur dengan Ilmu!

Gambar
“Iman itu soal perasaan. Tidak bisa diukur!”   Pernyataan itu umum tapi STTBENTARA menantangnya dengan pendekatan yang berani:  iman bisa dipahami, dianalisis, bahkan “diukur” melalui ilmu  bukan untuk mereduksi, tapi untuk memperdalam. Di laboratorium “Spiritualitas dan Perilaku”, mahasiswa STTBENTARA bekerja sama dengan psikolog untuk mengembangkan  indikator pertumbuhan rohani kedalaman doa, konsistensi pelayanan, kapasitas pengampunan, kepekaan terhadap keadilan. “Kami tidak mengukur iman seperti timbangan,” jelas Dr. Reza, dosen teologi pastoral. “Tapi kami ingin tahu:  apa tanda nyata bahwa seseorang bertumbuh dalam Kristus? ” Salah satu proyek penelitian mereka menunjukkan: jemaat yang terlibat dalam pelayanan sosial  memiliki tingkat kecemasan 30% lebih rendah  dan rasa syukur yang lebih tinggi. Ini bukan kebetulan. Ini  bukti ilmiah tentang damai sejahtera yang melampaui akal . STTBENTARA juga menggunakan  analisis data  un...

Kuliah di STTBENTARA Gratis? Ini Syaratnya yang Mengejutkan!

Gambar
“Kuliah di STTBENTARA gratis?”   Pertanyaan ini sering muncul dan jawabannya mengejutkan: ya, untuk mereka yang memenuhi syarat khusus. Bukan beasiswa biasa. Tapi program “Panggilan Tanpa Batas” di mana STTBENTARA menanggung 100% biaya kuliah, buku, bahkan uang saku bulanan untuk calon pelayan Tuhan dari latar belakang ekonomi lemah. Syaratnya?   1. Terpanggil untuk pelayanan penuh waktu   2. Direkomendasikan oleh gereja lokal   3. Bersedia melayani di daerah terpencil minimal 3 tahun setelah lulus “Kami tidak ingin panggilan Tuhan terhenti karena uang,” kata Tim Beasiswa STTBENTARA. “Jika Tuhan memanggil, kami percaya Tuhan juga menyediakan dan kami jadi saluran-Nya.” Salah satu penerima program ini adalah Maria dari Nusa Tenggara Timur. Ayahnya petani garam, ibunya penjual ikan asin. Ia hampir menyerah sampai STTBENTARA menghubunginya. Kini, ia kuliah gratis, dan setiap libur, ia kembali ke desanya untuk mengajar Alkitab anak-anak. Program ini d...

Gereja Runtuh, Tapi STTBENTARA Malah Makin Berkembang!

Gambar
Saat gedung gereja tua di Jakarta runtuh akibat gempa, banyak yang berduka. Tapi STTBENTARA justru melihat kesempatan emas untuk membangun kembali bukan hanya bangunan, tapi visi pelayanan. “Gereja bukan tembok. Gereja adalah tubuh Kristus,” kata Rektor STTBENTARA dalam pertemuan darurat dengan jemaat. “Dan tubuh itu tidak hancur ia beradaptasi.” Alih-alih membangun kembali gedung megah, STTBENTARA mengusulkan “Gereja Tanpa Tembok”: komunitas iman yang tersebar di rumah-rumah, kafe, taman kota, bahkan ruang virtual. Mahasiswa STTBENTARA langsung turun tangan. Mereka membentuk kelompok kecil di tiap RW, mengadakan ibadah di halaman, dan mengajar Alkitab lewat podcast. Hasilnya? Jemaat tidak berkurang malah bertambah 40% dalam 6 bulan. “Orang tidak datang karena gedung megah. Mereka datang karena merasa diterima,” ujar seorang mahasiswa. Yang menarik, pendapatan persembahan justru naik karena jemaat merasa uang mereka dipakai untuk pelayanan nyata, bukan untuk listrik AC gedung. STTBENTA...

STTBENTARA Ungkap Teologi Bukan Cuma Hafalan Ayat!

Gambar
“Kamu hafal berapa ayat Alkitab?”   Pertanyaan itu dulu jadi ukuran rohani di banyak lingkungan teologis. Tapi di STTBENTARA, mahasiswa diajarkan sesuatu yang lebih dalam: teologi bukan tentang hafalan tapi transformasi. Di kelas “Teologi Praktis”, mahasiswa tidak diminta menghafal definisi dosa. Mereka diajak mengunjungi penjara, berdialog dengan narapidana, lalu merefleksikan: Bagaimana kasih karunia Allah bekerja di sini? Di mata kuliah “Etika Kontemporer”, mereka tidak hanya belajar teori tentang keadilan tapi menganalisis kebijakan pemerintah, lalu merancang respons gereja berbasis Alkitab. “Kami ingin lulusan yang bisa berpikir teologis, bukan hanya mengutip ayat,” kata Prof. Sarah, ketua program studi. Salah satu proyek akhir mahasiswa adalah “Teologi di Pasar Tradisional”. Mereka berbaur dengan pedagang, lalu menulis refleksi tentang bagaimana konsep shalom dan keadilan sosial bermain dalam ekonomi mikro. Hasilnya? Lulusan STTBENTARA tidak bicara teologi seperti kamus....

Dulu Pecandu, Kini Jadi Gembala Ini Peran STTBENTARA!

Gambar
Dulu, Yosef hidup di lorong gelap: narkoba, judi, dan kekerasan. Ia sudah putus asa sampai suatu malam, seorang pemuda mengajaknya ke pertemuan doa kecil di gubuk pinggir kali. Di sanalah ia pertama kali mendengar: “Ada pengharapan bagi yang hancur.” Kini, Yosef adalah Gembala Jemaat di Komunitas Pemulihan Kota, dan lulusan terbaik STTBENTARA angkatan 2024. Perjalanannya tidak mudah. Saat mendaftar ke STTBENTARA, banyak yang meragukan. “Apakah mantan pecandu layak belajar teologi?” Tapi STTBENTARA percaya: panggilan Tuhan tidak melihat latar belakang, tapi kerinduan hati. Di kampus, Yosef tidak diperlakukan sebagai “kasus khusus”. Ia belajar seperti mahasiswa lain hermeneutika, sejarah gereja, pastoral konseling. Tapi pengalaman hidupnya menjadi aset teologis: ia mengerti penderitaan, keraguan, dan kerinduan akan pemulihan seperti yang tidak dimengerti banyak calon hamba Tuhan. Mata kuliah favoritnya? “Teologi Pemulihan” yang menggali kisah-kisah Alkitab tentang orang yang dipulihkan: ...

Mahasiswa STTBENTARA Berani Tantang Para Pendeta Senior!

Gambar
Seorang mahasiswa STTBENTARA berdiri di depan forum pelayan gereja dan berkata “Saya tidak setuju dengan cara Bapak menggambarkan perempuan dalam khotbah Minggu lalu.” Ruangan hening. Para pendeta senior saling berpandangan. Tapi sang mahasiswa dengan suara tenang melanjutkan:   “Alkitab memanggil perempuan sebagai rekan sekerja dalam Injil, bukan hanya ‘penolong di rumah’.” Ini bukan pemberontakan. Ini hasil pendidikan teologis yang kritis dan berani ciri khas STTBENTARA. Di kampus ini, mahasiswa diajar untuk menghormati otoritas, tapi tidak takut pada otoritarianisme. Mereka belajar bahwa iman sejati bukan taat buta, tapi dialog yang rendah hati dengan tradisi sambil terus diuji oleh firman Tuhan. Kasus seperti ini bukan yang pertama. Tahun lalu, sekelompok mahasiswa menantang gereja untuk merevisi kebijakan diskriminatif terhadap jemaat disabilitas. Mereka tidak protes. Mereka datang dengan proposal teologis dan praktis lengkap disusun dalam mata kuliah “Etika Sosial Kristi...

STTBENTARA Bongkar Rahasia Pelayanan yang Tak Pernah Gagal!

Gambar
Apa rahasia pelayanan yang tak pernah gagal? Bukan karisma. Bukan jumlah jemaat. Bukan juga keajaiban spektakuler. Menurut STTBENTARA, rahasianya adalah kehadiran yang konsisten dalam kerapuhan. Di tengah budaya instan dan performa, STTBENTARA mengajarkan sesuatu yang radikal pelayanan adalah tentang hadir bukan tentang hasil. Seorang pendeta tidak diukur dari berapa banyak orang bertobat, tapi dari seberapa setia ia duduk di samping orang yang menderita. “Kami melatih mahasiswa untuk tinggal, bukan hanya datang,” kata Dr. Timotius, dosen pastoral di STTBENTARA. “Yesus tidak menyembuhkan semua orang di Yerusalem. Tapi Ia hadir penuh perhatian, penuh empati.” Salah satu metode unik STTBENTARA adalah “Imersi Penderitaan”. Mahasiswa tinggal selama sebulan di panti jompo, rumah singgah korban kekerasan, atau komunitas difabel. Mereka tidak boleh berkhotbah. Tugas mereka hanya satu: mendengarkan. Hasilnya luar biasa. Lulusan STTBENTARA dikenal karena kedalaman rohani dan kepekaan emosional ...